Mixed media installation:

Steel, batik, painting, shadow puppet, wooden gong, drawing, and silkscreen on fabric.

 

In the installation Eroded Borders, the Javanese collective  GEGERBOYO explores the ever-changing meaning of borders and territory. The work reveals how these have emerged and shifted throughout the history of the Indonesian archipelago: from the Hindu-Buddhist kingdoms like Mataram and Majapahit and the Islamic Mataram, through colonial rule by Portugal, Great Britain, and especially the Netherlands, the Japanese occupation, and ultimately the struggle for independance and the postcolonial era.

 

These historical shifts in power were often accompanied by new forms of territorial demarcation, with colonial powers increasingly using borders from the sixteenth century onward to maintain control over the trade in valuable resources such as cloves, tea, coffee, sugar, quinine, and nutmeg. These borders often took physical forms, like forst, harbors and high fences, that not only represented territorial power but also shaped cultural relationships and economic structures. This history continues to resonate in present-day Indonesia and the demarcation of land remains a source of conflict, shaped by power dynamics, religion, ethnicity, and ideology.

 

Eroded Borders emphasizes that borders are not static. They are continually redefined by how societies understand themselves, write their histories, and organize power. In the installation, GEGERBOYO draws on a wide range of sources—from historical figures, both heroes and perpetrators, and official historiography to propaganda, local stories, and alternative perspectives. By weaving together these many layers, the work invites reflection: what do borders mean today, and how do they shape our understanding of the past, present, and future?

 

***

 

Instalasi media campuran:

Baja, batik, lukisan, wayang kulit, gong kayu, gambar, dan sablon di atas kain.

 

Dalam instalasi Eroded Borders, kolektif Jawa GEGERBOYO mengeksplorasi makna perbatasan dan wilayah yang selalu berubah. Karya ini mengungkapkan bagaimana hal-hal tersebut muncul dan bergeser sepanjang sejarah kepulauan Indonesia: dari kerajaan Hindu-Buddha seperti Mataram dan Majapahit dan Mataram Islam, melalui pemerintahan kolonial oleh Portugal, Inggris Raya, dan terutama Belanda, pendudukan Jepang, dan akhirnya perjuangan kemerdekaan dan era pascakolonial.

 

Pergeseran kekuasaan historis ini sering disertai dengan bentuk-bentuk baru pembatasan wilayah, dengan kekuatan kolonial semakin menggunakan perbatasan sejak abad keenam belas dan seterusnya untuk mempertahankan kendali atas perdagangan sumber daya berharga seperti cengkeh, teh, kopi, gula, kina, dan pala. Perbatasan ini sering kali berbentuk fisik, seperti hutan, pelabuhan, dan pagar tinggi, yang tidak hanya mewakili kekuasaan teritorial tetapi juga membentuk hubungan budaya dan struktur ekonomi. Sejarah ini terus bergema di Indonesia saat ini dan penetapan batas tanah tetap menjadi sumber konflik, yang dibentuk oleh dinamika kekuasaan, agama, etnis, dan ideologi.

 

Eroded Borders menekankan bahwa perbatasan bukanlah sesuatu yang statis. Perbatasan terus-menerus didefinisikan ulang oleh bagaimana masyarakat memahami diri mereka sendiri, menulis sejarah mereka, dan mengatur kekuasaan. Dalam instalasi ini, GEGERBOYO menggunakan berbagai sumber—dari tokoh-tokoh sejarah, baik pahlawan maupun pelaku, dan historiografi resmi hingga propaganda, cerita lokal, dan perspektif alternatif. Dengan menyatukan berbagai lapisan ini, karya ini mengundang refleksi: apa arti perbatasan saat ini, dan bagaimana perbatasan membentuk pemahaman kita tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan?

 

Lara

Elleboogkerk Kunstal KADE

2025