Mixed Media Installation:

Batik, Buffalo skin shadow puppets, and iron installation.

 

This work explores the imaginary axis of Yogyakarta, represented through the Southern Sea, the Palace (Keraton), and Mount Merapi. The concept of this imaginary axis was originally established by Sultan Hamengku Buwono I alongside the construction of the Yogyakarta Palace. Subsequent rulers preserved the concept, while Sultan Hamengku Buwono IX further reinforced it in a more subtle manner. The spatial arrangement of this imaginary axis embodies the Javanese cosmological concept reflecting  microcosm (Jagad Cilik) and macrocosm (Jagad Gede),  a philosophy emphasizing harmony between humanity and the universe.

 

The installation further unfolds the layered narratives embedded along this invisible line. Tensions between cultural preservation, the monopolization of history, the maintenance of tradition, social conflict, and differing perspectives among various entities are interwoven throughout the installation. The visual interpretation developed in this work refers to the richness and unity of historical elements particularly Javanese history characterized through the ideas of “obar-abir” and “tumpuk-tundung”: overlapping, layered visual arrangements. These intersecting layers create shadows that appear blurred, unstable, and uncertain.

 

Thus, the imaginary axis is understood not as a fixed and complete narrative, but as a space of interpretation that continues to move between shadows and the negotiation of meaning.

 

***

 

Instalasi media campuran:

Batik, wayang kulit, dan instalasi besi.

 

Karya ini menceritakan sumbu imajiner di Yogyakarta yang direpresentasikan menjadi Laut selatan, Keraton, dan Gunung Merapi. Konsep sumbu imajiner sebenarnya sudah dibuat sejak Sultan Hamengku Buwono I, bersamaan dengan dibangunnya Keraton Yogyakarta. Raja raja setelahnya tidak pernah mengubah konsep ini, hingga Sultan Hamengku Buwono IX semakin menegaskan konsep ini menjadi lebih subtil. Tata letak sumbu imajiner adalah perwujudan konsep kosmologis Jawa yang mencerminkan Jagad Cilik (mikrokosmos) dan Jagad Gede (makrokosmos), sebuah konsep untuk selalu selaras antara manusia dan alam semesta.

 

Karya ini juga berusaha menghadirkan cerita cerita yang terekam di sepanjang garis sumbu imajiner. Singgungan antara semangat merawat kebudayaan, memonopoli sejarah, menjaga tradisi, ketegangan sosial, sampai perbedaan sudut pandang antara berbagai macam entitas menyempil diantara besarnya instalasi karya ini. Cara tafsir visual yang dikembangkan dalam karya ini mengacu pada gambaran kekayaan dan kesatuan berbagai unsur sejarah (khususnya Jawa) yang dicirikan berupa “obar-abir” dan “tumpuk-tundung”. Lapisan lapisan visual saling tumpang tindih ini yang kemudian menciptakan bayangan bayangan yang samar dan tidak pasti.

 

Dengan demikian; Sumbu imajiner dipahami bukan sebagai narasi yang utuh dan final, melainkan menjadi sarana tafsir yang bisa terus bergerak diantara bayangan dan negosiasi makna.

  

Gegerboyo

Yogyakarta, Indonesia

2025