Mural in the wall
Karmawibhangga is the name given to a series of reliefs at the lowest level of Borobudur Temple, specifically at the Kamadhatu level, which in Buddhist cosmology is defined as the “realm of desire.” These reliefs depict the early stages of human spiritual awareness, when life is still filled with worldly urges, desires, and the moral consequences of every action.
The Karmawibhangga relief panels explicitly depict various forms of human behavior, from theft and murder to violence and rape to torture. These reliefs represent the law of cause and effect, as well as a reminder of the relationship between human actions and their consequences.
This mural draws inspiration from the Karmawibhangga reliefs through a visual appropriation approach to reflect modern life and contemporary social situations. Various issues emerging in today’s society are combined with ancient narratives in the Borobudur reliefs, demonstrating that issues of power, violence, morality, and human desire continue to recur in different forms throughout time.
Through this work, Gegerboyo tries to re-read the Karmawibhangga relief not only as a historical artifact or spiritual symbol, but also as a social mirror that remains relevant to the realities of life today.
***
Mural di tembok
Karmawibhangga merupakan sebutan bagi rangkaian relief pada bagian paling bawah Candi Borobudur, tepatnya pada tingkat Kamadhatu, yang dalam kosmologi Buddhisme dimaknai sebagai “alam hawa nafsu.” Relief ini menggambarkan tahap awal kesadaran spiritual manusia, di mana kehidupan masih dipenuhi oleh dorongan duniawi, hasrat, serta konsekuensi moral dari setiap tindakan.
Dalam panel-panel relief Karmawibhangga, berbagai bentuk perilaku manusia digambarkan secara eksplisit, mulai dari pencurian, pembunuhan, kekerasan, pemerkosaan, hingga penyiksaan. Keseluruhan relief tersebut menjadi representasi mengenai hukum sebab-akibat, sekaligus pengingat tentang hubungan antara tindakan manusia dan konsekuensi yang ditimbulkannya.
Mural ini mengambil inspirasi dari relief Karmawibhangga melalui pendekatan apropriasi visual untuk merefleksikan kehidupan modern dan situasi sosial kontemporer. Berbagai persoalan yang muncul dalam masyarakat saat ini dipertemukan dengan narasi-narasi kuno pada relief Borobudur, menunjukkan bahwa persoalan mengenai kekuasaan, kekerasan, moralitas, dan hasrat manusia terus berulang dalam bentuk yang berbeda di setiap zaman.
Melalui karya ini, Gegerboyo mencoba membaca kembali relief Karmawibhangga bukan hanya sebagai artefak sejarah atau simbol spiritual, melainkan juga sebagai cermin sosial yang tetap relevan terhadap realitas kehidupan hari ini.
Gegerboyo
Yogyakarta
2018