Mixed media installation:
Mural on wall & plywood, drawing on paper, silkscreen on fabric, and painting on canvas.
This project explores the theme of panji or flags. In Javanese history, panji are understood as signs, symbols, or grand flags used as symbols of power, troop identification, or territorial markers. Through this project, Gegerboyo collaborated with Gunawan Maryanto to create a series of war banners reinterpreted through an understanding of contemporary social and political situations.
Tan Hana Dharma Mangrwa is a passage from the Kakawin Sutasoma by Mpu Tantular in the 14th century, which later became part of the Indonesian national motto: Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. The phrase is generally interpreted as: “Different but still one, there is no dual truth.” In the historical context of Majapahit, this motto reflects the importance of tolerance and diversity, especially in religious life. “Beraneka satu itu” (Unity in Diversity) represents the diversity of beliefs, groups, and ethnicities living within one cultural space. Meanwhile, “there is no dual truth” points to a universal value that transcends differences: a metaphysical awareness of goodness, harmony, and relationships between humans, as well as humanity’s relationship with God.
For Gegerboyo, the concept of Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity) also reflects collective work practices. Although each member possesses a distinct artistic character and visual approach, this diversity is united under the same banner: Gegerboyo.
***
Instalasi media campuran:
Mural di dinding & kayu lapis, gambar di atas kertas, sablon di atas kain, dan lukisan di atas kanvas.
Projek ini mengangkat tema panji atau bendera. Dalam sejarah Jawa, panji dimaknai sebagai tanda, lambang, atau bendera kebesaran yang digunakan sebagai simbol kekuasaan, identitas pasukan, maupun penanda wilayah. Melalui projek ini, Gegerboyo berkolaborasi dengan Gunawan Maryanto untuk menciptakan serangkaian panji perang yang dimaknai ulang melalui pembacaan terhadap situasi sosial dan politik masa kini.
Tan Hana Dharma Mangrwa merupakan penggalan kalimat dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14, yang kemudian menjadi bagian dari semboyan negara Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Kalimat tersebut secara umum dimaknai sebagai: “Berbeda-beda tetapi tetap satu, tiada kebenaran yang mendua.” Dalam konteks sejarah Majapahit, semboyan ini merefleksikan pentingnya toleransi dan kemajemukan, terutama dalam kehidupan beragama. “Beraneka satu itu” menggambarkan keberagaman keyakinan, kelompok, dan suku bangsa yang hidup dalam satu ruang kebudayaan. Sementara “tiada kebenaran yang mendua” mengarah pada satu nilai universal yang melampaui perbedaan: sebuah kesadaran metafisik mengenai kebaikan, harmoni, dan relasi antarmanusia, sekaligus hubungan manusia dengan Tuhannya.
Bagi Gegerboyo, konsep Bhinneka Tunggal Ika juga menjadi refleksi atas praktik kerja secara kolektif. Meskipun setiap anggota memiliki karakter artistik dan pendekatan visual yang berbeda, keberagaman tersebut dipertemukan dalam satu kesatuan di bawah panji yang sama: Gegerboyo.
Gegerboyo
Yogyakarta, Indonesia
2019