Mixed Media Installation:

Batik, painting and shadow puppets

 

When the COVID-19 pandemic hit almost the entire world, no country was fully prepared and responsive to it. Various efforts were implemented, from state-level policies to individual measures, from social distancing to lockdowns. As the world sought ways to combat the pandemic, the very fabric of life was forced to change. New regulations emerged regarding how people should live and socialize. These simultaneous changes became known as the “new normal.”

 

But what exactly is meant by “new normal”? Are restrictions on physical interaction and online meetings a form of “new normal”? Or are changes in habits such as the use of masks and hand sanitizers a sign of “new normal”? Or, could this be the “normal” life that should have been lived all along? Perhaps the pandemic is nature’s way of signaling to humans to reorganize their way of life for the better.

 

This work examines the pandemic situation from the perspective of grassroots communities, particularly those in the lower-middle class. Community groups are often marginalized and considered hasty in following the various rules of the new normal. However, in their daily practices, they have their own strategies for responding to these life changes—strategies that are often progressive, appropriate, subtle, and contextual to their social realities.

 

Gegerboyo collaborated with folk theater playwright Irfanudin Ghozali. The script creation process was conducted through participatory ethnographic research in traditional markets. Markets were chosen because they are spaces for transacting basic community needs, as well as social spaces that record relationships, dynamics, and social structures through daily activities.

 

The script was then visually processed into video and distributed through social media (Instagram, the web, and YouTube) during the new normal period. The choice of digital platforms was a crucial part of this project, enabling widespread distribution, easy access, and reaching various levels of society, while adapting to the limited availability of physical exhibition spaces during this period.

 

***

 

Instalasi media campuran:

Batik, lukisan, dan wayang kulit

 

Ketika pandemi COVID-19 melanda hampir seluruh dunia, tidak ada negara yang benar-benar siap dan tanggap menghadapinya. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari kebijakan tingkat negara hingga tindakan individual, dari penerapan jaga jarak sosial hingga lockdown. Di saat dunia berusaha mencari cara untuk menanggulangi pandemi, tatanan kehidupan pun dipaksa berubah. Muncul berbagai peraturan baru tentang bagaimana manusia seharusnya hidup dan bersosialisasi. Perubahan yang terjadi secara serentak ini kemudian dikenal dengan istilah new normal atau kehidupan normal yang baru.

 

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan new normal? Apakah pembatasan interaksi fisik dan pertemuan daring merupakan bentuk new normal? Ataukah perubahan kebiasaan seperti penggunaan masker dan hand sanitizer yang menandai kehidupan normal yang baru? Atau justru, mungkinkah kondisi ini adalah kehidupan normal yang seharusnya dijalani sejak awal? Bisa jadi, pandemi merupakan cara alam memberi isyarat agar manusia menata ulang cara hidupnya ke arah yang lebih baik.

 

Karya ini membahas situasi pandemi dari sudut pandang masyarakat akar rumput, khususnya mereka yang berada dalam struktur ekonomi kelas menengah ke bawah. Kelompok masyarakat yang kerap dimarjinalkan dan dianggap tergopoh-gopoh dalam mengikuti berbagai aturan new normal. Padahal, dalam praktik keseharian, mereka memiliki strategi sendiri dalam menyikapi perubahan hidup ini—strategi yang sering kali bersifat progresif, tepat guna, subtil, dan kontekstual dengan realitas sosial mereka.

 

Gegerboyo berkolaborasi dengan penulis naskah teater rakyat, Irfanudin Ghozali. Proses penciptaan naskah dilakukan melalui penelitian etnografis partisipatoris di lingkungan pasar tradisional. Pasar dipilih karena merupakan ruang transaksi kebutuhan dasar masyarakat, sekaligus ruang sosial yang merekam relasi, dinamika, dan struktur sosial melalui aktivitas keseharian.

 

Naskah kemudian diolah secara visual dalam bentuk video dan didistribusikan melalui media sosial (Instagram, web, dan YouTube) selama masa new normal. Pemilihan platform digital menjadi bagian penting dari proyek ini, guna memungkinkan penyebaran karya secara luas, mudah diakses, dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat, sekaligus menyesuaikan dengan situasi keterbatasan ruang pamer fisik pada masa tersebut.

 

Gegerboyo

Yogyakarta, Indonesia

2020