Mixed media installation:
Batik, siren lights
It is a batik series from Gegerboyo called “Tonil Goro Goro” that tells about environmental destruction on several islands in Indonesia. In traditional shadow puppetry (wayang kulit, purwa), the scene of “goro goro” is always included as part of the storyline. It begins with the manifestation of human vices leading to chaos everywhere. The “Tonil Batik Goro Goro Gegerboyo” is a record of the chaos that has occurred and is ongoing in Indonesia. Stories about corrupt government officials, deforestation, environmental destruction, unfair preferences, social inequalities, and human vices are vividly depicted in the “Tonil Batik Goro Goro Gegerboyo”.
***
Instalasi media campuran:
Batik, lampu sirine
Adalah series tonil batik dari Gegerboyo yang menceritakan tentang kerusakan alam yang ada di beberapa pulau di Indonesia. Didalam pementasan wayang kulit (purwa), adegan goro goro selalu disematkan sebagai satu bagian dari alur cerita besar pertunjukan wayang. Dimulai dari perwujudan sifat buruk manusia dan memunculkan kekacauan dimana mana. Tonil batik goro goro gegerboyo adalah rekam jejak dari kekacauan yang sudah dan sedang terjadi di Indonesia. Cerita tentang pejabat negara korup, perusakan hutan, perusakan alam, keberpihakan yang tidak adil, kesenjangan sosial, dan sifat sifat buruk manusia terangkum nyata dalam tonil batik goro goro gegerboyo.
“Dandang diuneke kontol, kontol diuneke dandang, gunung njebluk, segoro umup, banker bandang angin rebut. Larang sandang, larang pangan, lan larang papan, Sireping goro-goro mbarengi jemudhule Gegerboyo”
Gegerboyo
Yogyakarta, Indonesia
2021