Mixed media installation:

Batik, water torrent, Pringgasela fabric from Lombok, found object, video, sound, siren lights and puppets

 

This is collaborative work with 3 man-sources from Rembang named Mas Akid (Ketangi Village) Kang Ren (Megulung Village) and Pak Pranghono (Sudo Village). These three sources have one common thread of discussion, namely about ‘embung’. Embung on the general definition is a basin that functions as a rainwater reservoir used for irrigation, preventing flooding, and maintaining groundwater quality. The focus of the discussion that we will discuss is the situation of embungs which is increasingly deteriorating in this modern era. These adversities include drought, misuse of the function of the embung and the erosion of local trust in caring for the embung. Some of the things that create such a situation are;

 

1). Selection of plant types by local farmers causing rapid decline in groundwater sources.


2). Loss of local belief in myths and supernatural beings who guard the embung/nature.

3). Government programs that are not on target, like building water reservoir.

 

Gegerboyo’s work contains recorded data that we obtained when we went to Rembang to meet sources and see first hand the situation of the embung there. We will present the data and research results in a work installation inspired by the shape of a water tower combined with batik work and video. This installation work represents a punden, which in the general sense is a place of reverence, which can range from a grave to a place for carrying out worship rituals. This concept aligns with the embung theme we will make the theme of the work. Embung in Rembang today died like at a funeral, but at the same time there is still a spirit to care for and respect. Our springs are sinking, sinking back into the ground.

 

***

 

Instalasi media campuran:

Batik, penampung air, kain pringgasela Lombok, benda temuan, video, suara, lampu sirine dan wayang

 

Karya ini adalah kerja kolaboratif bersama 3 narasumber asal Rembang bernama Mas Akid (Desa Ketangi) Kang Ren (Desa Megulung) dan Pak Pranghono (Desa Sudo). Ketiga narasumber ini mempunyai satu benang merah bahasan yang sama, yaitu tentang embung. Embung pada pengertian umum adalah suatu cekungan yang berfungsi sebagai tampungan air hujan yang digunakan untuk pengairan, mencegah banjir, dan menjaga kualitas air tanah. Fokus bahasan yang akan kami angkat adalah tentang situasi embung yang semakin terpuruk di era modern ini. Keterpurukan tersebut meliputi kekeringan, penyalahgunaan fungsi embung sampai terkikisnya kepercayaan lokal dalam merawat embung. Beberapa hal yang membuat situasi seperti itu adalah;

 

1). Pemilihan jenis tanaman oleh petani lokal yang menyebabkan cepat surutnya sumber air tanah.

2). Hilangnya kepercayaan lokal terhadap mitos dan mahkluk ghaib penjaga embung/alam.

3). Program pemerintah yang tidak tepat sasaran, seperti embungisasi.

 

Karya Gegerboyo berisi rekaman data yang kami dapatkan saat ke Rembang bertemu narasumber dan melihat langsung situasi embung di sana. Data dan hasil penelitian tersebut akan kami presentasikan dalam sebuah instalasi karya yang terinspirasi dari bentuk tower air dikombinasikan dengan karya batik dan video. Karya instalasi tersebut adalah representasi dari sebuah punden, yang dalam pengertian umum adalah sebuah tempat yang dihormati, bisa berupa makam sampai tempat untuk melakukan ritual pemujaan. Konsep ini selaras dengan tema embung yang akan kami jadikan tema karya. Embung di Rembang hari ini mati seperti di pemakaman, tapi di saat yang sama masih ada semangat untuk merawat dan menghormati. Mata air kita semakin tenggelam, tenggelam kembali ke dalam tanah.

 

Gegerboyo

Jakarta, Indonesia 2023

Yogyakarta, Indonesia 2024

Yogyakarta, Indonesia 2025