Mixed Media Installation
Batik, keroncong performance, gejlok lesung, and shadow puppet batik beber
Babad Watu is a collaborative interdisciplinary performance situated along the southern coast of Gunungkidul, specifically at Baron Beach. The work brings together Wage Daksinarga, Hasta Indriyana, Dalang Gito, the keroncong ensemble Sekar Sela, a gejlok lesung collective, and a sholawatan group—all of whom are rooted in the coastal communities of southern Gunungkidul.
The project originates from a collection of oral narratives and folk tales that continue to circulate throughout the Gunungkidul region. Fragments of these stories are subsequently reinterpreted and translated into performances combining keroncong music, gejlok lesung, and wayang batik beber. The wayang beber medium employs an expansive batik cloth scroll containing visual interpretations of the Cupu Panjala prophecy—a prophetic narrative traditionally used to read social, economic, environmental, and climatic conditions, as well as possible events that may unfold in the coming year.
Through this approach, Babad Watu functions as an attempt to re-examine the cultural practices through which the people of Gunungkidul understand and relate to nature. Here, nature is not positioned merely as a backdrop, but as a living entity—a jagad besar (macrocosm)—within which humans, animals, and plants exist in interconnected and mutually sustaining relationships.
***
Instalasi media campuran:
batik, pertunjukan keroncong, gejlok lesung, dan wayang batik beber.
Babad Watu adalah sebuah pertunjukan kolaborasi lintas disiplin yang berlangsung di pesisir selatan Gunungkidul, tepatnya di Pantai Baron. Karya ini mempertemukan Wage Daksinarga, Hasta Indriyana, Dalang Gito, grup keroncong Sekar Sela, kelompok gejlok lesung, serta kelompok sholawatan—yang seluruhnya berakar dari komunitas pesisir selatan Gunungkidul.
Pertunjukan ini berangkat dari temuan berbagai cerita dongeng yang hidup dan tersebar di wilayah Gunungkidul. Fragmen-fragmen cerita tersebut kemudian digubah dan diterjemahkan ke dalam bentuk pertunjukan musik keroncong, gejlok lesung, serta wayang batik beber. Medium wayang beber menggunakan satu bentangan kain batik besar yang memuat visualisasi ramalan Cupu Panjala—sebuah narasi ramalan yang menafsirkan kondisi sosial, ekonomi, cuaca, hingga kemungkinan peristiwa yang akan terjadi pada tahun mendatang.
Melalui pendekatan ini, Babad Watu menjadi upaya pembacaan ulang terhadap praktik budaya lokal masyarakat Gunungkidul dalam memahami alam. Alam tidak diposisikan sebagai latar, melainkan sebagai entitas hidup—sebuah jagad besar—tempat manusia, hewan, dan tumbuhan berada dalam relasi yang saling terhubung dan dihargai.
Gegerboyo × Wage Daksinarga × Hasta Indriyana
Gunungkidul, Indonesia
2025