Mixed media installation:
Batik on cloth, painting on canvas, shadow puppets, goni sacks
Articulating coffee is not limited to coffee as a drink only. Numbers of complicated event and history dissembling a cup of coffee that is served on our table almost every day. Starting from colonialism, war, land struggle, capitalism, to trade competition between countries. From various information gathered; coffee was first discovered in Arabia and began to become a trading area at Mocha port. Arab traders monopolized this commodity and privatized coffee plants. But the power of privatization could not stop everyone’s desire to cultivate it, then coffee plants began to spread from Arabia to all corners of the world.
Currently, almost 50 countries have coffee plantations. In Java itself coffee plantations was founded in 1696 by the VOC. Development of coffee plantations in Java as well followed by various heartbreaking stories, such as crop failure, enforcement plantation until gaps between social degree. Privatization of coffee drinks also occurs in Java, only the top of social strata drinks coffee. But that cannot repress society’s desire to cultivate, process and consume it. With various stories and ways, eventually all social degree started consuming coffee drinks.
Coffee is a virus. It could easily spread to all levels of society throughout the world regardless of class, caste, religion, race and social structure. From conglomerates in cafes to farmers in smalltavern, from influencers at Starbucks to pedicab drivers at ‘angkringan’, all coulden joy a cup of drink called coffee. Thereis almost no kind of drink that can be on all lines and become a melting pot of social degree like coffee.
Each piece of Gegerboyo’s work tells of one story and the circumstances in which the coffee is written is at. The bell hanging on each piece is a symbol of time. Broadly speaking, Gegerboyo’s work discusses about track record and journey of the coffee plant with all its intrigue, from myths, history, to modern life.
***
Instalasi media campuran:
Batik di atas kain, lukisan di atas kanvas, wayang kulit, karung goni
Berbicara mengenai kopi tentu saja tidak sebatas membahas kopi sebagai minuman. Banyaknya peristiwa dan sejarah yang tidak sederhana menyelubungi secangkir kopi yang hampir setiap hari tersaji di meja kita. Mulai dari kolonialisme, perang, perebutan lahan, kapitalisme, sampai persaingan dagang antar negara. Dari berbagai informasi; kopi pertama kali ditemukan di Arab dan mulai menjadi lahan perdagangan di pelabuhan Mocha. Pedagang Arab memonopoli komoditas ini dan melakukan privatisasi tanaman kopi. Tapi apa daya privatisasi itu tidak bisa membendung keinginan semua orang untuk mengambilnya, hingga tanaman kopi mulai tersebar dari Arab ke segala penjuru dunia.
Saat ini hampir di 50 negara mempunyai perkebunan kopi. Di Jawa sendiri perkebunan kopi dibangun tahun 1696 oleh VOC. Pembangunan perkebunan kopi di Jawa juga diikuti berbagai cerita memilukan, seperti gagal panen, tanam paksa sampai kesenjangan sosial antar kasta. Privatisasi minuman kopi juga terjadi di Jawa, minuman kopi hanya untuk strata sosial teratas. Tapi hal itu tidak bisa membendung keinginan semua orang untuk mengambil, mengolah dan mengkonsumsinya. Dengan berbagai cerita dan cara, akhirnya semua kasta mulai mengkonsumsi minuman kopi.
Kopi adalah virus. Sifatnya bisa dengan mudah menyebar ke seluruh lapisan masyarakat penjuru dunia tanpa memandang kelas, kasta, agama, ras dan struktur sosial. Mulai dari konglomerat di kafe sampai petani di warung, mulai dari influencer di Starbucks sampai penarik becak di angkringan, semua menikmati secangkir minuman bernama kopi. Hampir tidak ada jenis minuman yang bisa berada di semua lini dan menjadi pelebur kasta seperti minuman kopi.
Setiap lembar karya Gegerboyo menceritakan satu kejadian dan keadaan dimana kopi berada. Lonceng yang tergantung di setiap karya adalah simbol penanda waktu. Secara garis besar karya Gegerboyo membahas tentang rekam jejak perjalanan tanaman kopi dengan segala intriknya, mulai dari cerita mitos, sejarah, sampai kehidupan modern.
Gegerboyo
Jakarta, Indonesia 2022
Doha, Qatar 2023
(Collection of: National Museum of Qatar)