Installation, variable dimension:

Painting on canvas and paper, shadow puppet mask, terracotta, silkscreen on fabric, found objects and steel installation

 

This group of young artists is interested in mythology and mystical sites that are sacred in Java. Their installation works at ARTJOG was based on research on a pilgrimage site which local community named Gunung Hargo Gumilang or Gunung Tutup in Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta. Their interest in this trail was sparked by a story about the role of a figure in Indonesian politics named Sukino Suprobo. Mr. Kino is known to have supernatural power and healing power, earned the nickname “a man who cares for a mountain” and during his life  timewas close to the figure of President Soekarno. This figure is also a promoter for traditional Javanese art. This memorial is sacred because apart from Mr. Kino, there is also a grave of Eyang Mangunkusumo, a direct descendant of Mangkunegara I or Prince Samber Nyawa who was known to be anti-colonial and a National Hero.

 

This installation works tries to bring back the forms, content and essence of the ruins of Gunung Tutup which was built on four principles, namely socialism (gotong-royong), nationalism, spiritualism and culture. This site is also known as the site of diversity or the site of Pancasila ideology because it was formed from a syncretic mixture of elements of Hinduism, Islamic background, Javanese culture and others. Gunung Tutup has also been interpreted by local community as “something that is covered up”. The visual aesthetic motif developed by Gegerboyo group is characterized by “obar-abir”, “tumpuk-tundung” and “uba rampe”, all of which refer to the richness and unity of various elements in the ritual tradition.

 

***

 

Instalasi, berbagai ukuran:

Lukisan di atas kanvas dan kertas, topeng wayang kulit, terakota, sablon di atas kain, benda-benda temuan dan instalasi baja.

 

Kelompok seniman muda ini tertarik pada mitologi dan situs-situs mistik yang disakralkan di Jawa. Karya instalasi di ART- JOG dilandasi oleh penelitian atas situs peziarahan yang oleh masyarakat setempat diberi nama Gunung Hargo Gumilang atau Gunung Tutup di desa Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta. Ketertarikan mereka atas petilasan ini terpicu oleh cerita mengenai peran seorang tokoh dalam perpolitikan di Indonesia bernama Sukino Suprobo. Pak Kino dikenal memiliki kesaktian dan daya-daya penyembuhan, memperoleh sebutan “laki-laki yang merawat sebuah gunung” dan semasa hidupnya dekat dengan sosok Presiden Soekarno. Sosok ini sekaligus juga promotor bagi kesenian tradisional Jawa. Petilasan ini sakral karena selain Pak Kino, terdapat juga makam Eyang Mangunkusumo, keturunan langsung dari Mangkunegara I atau Pangeran Samber Nyawa yang dikenal anti-penjajahan dan Pahlawan Nasional.

 

Karya instalasi ini berusaha menghadirkan kembali bentuk-bentuk, isi dan esensi dari petilasan Gunung Tutup yang dibangun berdasarkan empat asas, yakni sosialisme (gotong –royong), nasionalisme, spiritualisme dan kebudayaan. Situs ini juga dikenal sebagai situs kebhinekaan atau situs ideologi Pancasila karena terbentuk dari percampuran sinkretis antara unsur-unsur Hindu, latar Islam, budaya Jawa dan lain-lain. Gunung Tutup juga telah ditafsirkan oleh masyarakat setempat tentang “sesuatu yang ditutupi”. Motif estetika visual yang dikembangkan oleh kelompok Gegerboyo dicirikan oleh “obar-abir”, “tumpuk-tundung” dan “uba rampe”, yang semuanya mengacu pada gambaran kekayaan dan kesatuan berbagai unsur dalam tradisi ritual.

 

ARTJOG

Yogyakarta, Indonesia

2023