Mixed Media Installation:
Batik, shadow puppets, performance
The cosmological relationship between humanity, nature, and the universe has long been understood within various Nusantara traditions as an interconnected relational unity. This relationship is often personified through the figure of Mother Earth as a feminine presence—bearer of fertility, life, and simultaneously a space for death and rebirth. In contrast, Father Sky emerges as a protective force, the bringer of light and rain, and the mover of cyclical time.
Together, these two entities form a unified cosmological balance that sustains space, time, and dimension. From this union, humanity is positioned as the “Child of the Universe”—not as a singular ruler, but as part of a larger cosmological network entrusted with maintaining equilibrium.
Kidung Pralaya, presented by Gegerboyo and Monica Hapsari, seeks to reawaken and rearticulate this cosmological consciousness. The work situates humanity within the vast orbit of the universe, where oppositions such as black and white, birth and death, order and chaos are not understood as binary conflicts, but as complementary forces that coexist in sustaining cosmic balance.
***
Instalasi media campuran:
Batik, wayang kulit, pertunjukan
Hubungan kosmologis antara manusia, alam, dan semesta telah lama dipersonifikasikan dalam berbagai tradisi Nusantara sebagai satu kesatuan relasional. Relasi ini kemudian diwujudkan dalam figur “Ibu Bumi” sebagai sosok feminin—pemberi kesuburan, kehidupan, sekaligus ruang bagi kematian dan kelahiran kembali. Di sisi lain, “Bapak Angkasa” hadir sebagai personifikasi pelindung, pembawa cahaya, hujan, serta penggerak siklus waktu.
Keduanya membentuk satu kesatuan yang menjaga keseimbangan dalam ruang, waktu, dan dimensi. Dari pertemuan tersebut, manusia dihadirkan sebagai “Anak Semesta”—bukan sebagai penguasa tunggal, melainkan sebagai bagian dari jaringan kosmologi yang seharusnya berperan sebagai penjaga keseimbangan.
Kidung Pralaya, yang dihadirkan oleh Gegerboyo dan Monica Hapsari, merupakan upaya untuk mengingatkan kembali sekaligus menghadirkan ulang kesadaran kosmologis tersebut. Karya ini menempatkan manusia dalam orbit besar bernama alam semesta, di mana oposisi seperti hitam–putih, kelahiran–kematian, serta keteraturan–kekacauan tidak dipahami sebagai pertentangan, melainkan sebagai pasangan yang saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan kosmos.
Gegerboyo x Monica Hapsari
Bandung, Indonesia
2025