Mixed media installation:
Batik, shadow puppet and aluminum steel installation.
Gate/Archway across the Nusantara archipelago have existed since approximately the 4th century CE. In their earliest forms, gates functioned as thresholds separating ritual space from the profane realm—a cosmological boundary between the jagad cilik (microcosm) and the jagad gede (macrocosm). During the colonial era, however, the meaning of the gate underwent a profound transformation. It became a territorial marker, an instrument of propaganda, and a mechanism of control: a symbol of colonial authority and domination.
Following Indonesian independence in 1945, the symbolic function of the gate shifted once again. Many colonial gates were dismantled as remnants of oppression, while newly constructed gates emerged as representations of national ideology and identity. In this context, the post-independence gate became a political statement—an architectural manifestation of sovereignty, collective identity, and the imagined future of the nation.
This installation constructs a liminal atmosphere: a threshold where emotions, memories, and contradictions converge. Hope and suspicion, pride and grief, intimacy and alienation, as well as the unstable tension between reality and false promises coexist within a single spatial encounter. Echoing the atmosphere of a rijsttafel banquet, the work reveals how relations of power and histories of violence continuously resurface beneath gestures of civility and togetherness. The gate installation becomes a symbolic stage connecting Papua, Sulawesi, Sumatra, and Java—a space in which conflict, uncertainty, and historical tension are collectively experienced across generations: in the past, present, and perhaps the future.
First Gate: Pessimism
The first gate revisits the turbulent entrance into the project of “Young Indonesia,” shaped through heroic national narratives inherited across generations, yet simultaneously marked by fragility, corruption, violence, and social volatility. The work reflects upon the violent dissolution of the Dutch East Indies into the modern Indonesian state and the waves of political brutality that followed, particularly the aftermath of the 1965–66 anti-communist massacres. Under military command, mass violence was systematically enacted not only against alleged communist sympathizers, but also against countless individuals condemned merely through accusation and labeling. Sukarno’s downfall marked another rupture within the nation’s unfinished historical trajectory.
Within this framework, the national motto Bhinneka Tunggal Ika (“Unity in Diversity”) is reconsidered critically: does unity truly exist, or has colonial domination merely reappeared in another form? The work points toward the unequal relationship between the center and the periphery—between Java and regions such as Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Eastern Indonesia, and Papua. The legalized dispossession of Indigenous land, protected through state apparatuses, legislation, and military force, becomes emblematic of continuing structures of violence. The installation also evokes the experiences of political prisoners, exiles, activists, and truth-tellers who lost citizenship, family, livelihood, dignity, and even their lives.
It is a portrait of collective disillusionment and unresolved national trauma.
The Second Gate: Prayers, Shouted.
Having passed through the first threshold, the second gate emerges as a space of invocation and longing—a prayer for a different Indonesia. Amid contemporary uncertainty, the work imagines a condition desired by all: tranquility, safety, intimacy, and the possibility of gathering together within the warmth of one’s own home. In this vision, such ordinary conditions become a form of luxury inaccessible to many.
The installation imagines those who were silenced, persecuted, or killed for speaking truth finally gathering together in peace, sharing food and companionship beneath the symbolic protection of a rumah tolak bala—a spiritual house of protection—and its invisible barriers guarding against violence and greed. This second gate does not offer resolution, but rather a fragile collective aspiration: a future still worth struggling for.
This installation is not merely an introduction to the exhibition, but an invitation to experience, to feel, and to reconsider the issues presented. At this point, the audience is asked to pause, to reflect, and to confront a difficult question: in the face of history that continues to repeat itself, at which gate are we standing today?
***
Instalasi media campuran:
Batik, wayang, dan instalasi besi aluminum.
Gerbang di Nusantara telah hadir sejak sekitar abad ke-4 Masehi. Pada masa itu, gerbang berfungsi sebagai pemisah antara ruang ritual dengan ruang profan. Gerbang adalah batas kosmologis antara jagad kecil dan jagad besar. Hingga pada masa kolonial, gerbang mengalami pergeseran makna. Pada masa ini gerbang dimaknai sebagai penanda teritorial, alat propaganda, dan sarana kontrol. Gerbang adalah simbol kekuasaan kolonial.
Paska kemerdekaan Indonesia tahun 1945, makna gerbang kembali berubah. Banyak gerbang kolonial dihancurkan karena dipandang sebagai simbol penjajahan. Sehingga ketika ada pembuatan gerbang di era kemerdekaan, maknanya lebih merepresentasikan ideologi dan identitas nasional. Gerbang kemerdekaan adalah pernyataan politik mengenai identitas, kedaulatan, dan imajinasi masa depan bangsa.
Karya instalasi ini menghadirkan suasana ambang. Dimana tempat berbagai emosi dan ingatan bertemu. Harapan dan kecurigaan, kebanggaan dan kesedihan, kekeluargaan dan keterasingan, hingga rasa terombang-ambing antara kenyataan dan janji palsu, semuanya hadir dan bercampur dalam satu adegan. Seperti didalam suasana jamuan rijsttafel dimana relasi kuasa dan penindasan selalu bisa bertemu kembali.
Instalasi gerbang ini adalah panggung simbolik yang mempertemukan Papua, Sulawesi, Sumatra, dan Jawa: ruang di mana konflik, ketegangan, dan ketidakpastian nasib dirasakan oleh banyak orang di waktu dulu, kini, dan mungkin juga di masa yang akan datang.
Gerbang pertama”Pesimisme”
Melihat kembali pintu masuk mejadi Indonesia Muda dengan Jargon Ratna Mutu Manikamnya yang diraih dengan susah payah, cerita heroic yang turun temurun, namun ironis, rentan, korup, dengan manusianya yang penuh gejolak amarah, dan mudah terprovokasi. mengingat kejadian pembubaran paksa Hindia belanda menjadi Indonesia dengan berbagai gelombang kekerasan, berdampak pada tragedi pasca meletusnya perisEwa G30s, Angkatan perang sebagai komando utama terjadinya genosida besar besaran terhadap simpaEsan partai komunis, terstruktur dan massif, bahkan kepada orang orang yang bukan terlibat namun karena label. Lalu, Sukarno lengser.
Bhineka Tunggal Ika, walaupun berbeda, namun kita tetap satu, juga merupakan jargon yang ikonik di negara ini, pertanyaannya, apakah kita memang betul betul mempersatukan? Atau kita mengkolonisasi dalam bentuk baru? Realitanya Negara hanya membangun pusat dan hanya mengeksploitasi pinggir,Menengok Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Emur hingga Irian Barat atau Papua. Pengambilan paksa tanah Adat dilegalkan Negara, sebuah kejahatan yang ditamengi oleh undang undang, apparatur negara, dan TENTARA. SeperE orang- orang ex tahanan poliEk, eksil, yang kehilangan banyak hal dalam hidupnya,kewarganegaraannya, masa mudanya, orang terkasihnya, pekerjaannya, kesejahteraannya, bahkan kehidupannya. Juga kepada orang orang yang menyerukan kebenaran, Nyawanyapun juga menjadi taruhan. Sebuah realita yang menyedihkan.
Gerbang kedua”Harapan”
Setelah mengalami/melewaE realita pada pintu gerbang pertama, Harapan dan rapalan doa kepada Indonesia hari esok seperEnya perlu diteriakkan sekeras kerasnya dalam kepala. Melihat Indonesia hari ini, membayangkan sebuah suasana paling diidamkan seEap manusia waras yang hidup, sesuatu yang sederhana, sebuah KETENTRAMAN, AMAN, NYAMAN, memiliki keluarga yang utuh, dan dapat berkumpul bersama dengan kecukupan di dalam kehangatan rumah sendiri, sungguh sebuah KEMEGAHAN yang tak semua mampu mendapatkannya. Membayangkan orang-orang yang “Dibunuh” karena menyuarakan kebenaran sedang berkumpul menikmati hidangan yang ramah tamah. Dibawah naungan rumah tolak bala, dan pagar Ghoibnya yang menjauhkan semua dari Durjana Angkara. Sebuah Angan yang patut diperjuangkan.
Instalasi ini bukan sekadar pengantar pameran, melainkan sebuah undangan untuk mengalami, merasakan, dan menimbang kembali isu-isu yang dihadirkan. Di titik inilah audiens diajak untuk berhenti sejenak, merefleksikan, dan mengajukan pertanyaan yang tak sederhana: di hadapan sejarah yang terus berulang, di gerbang manakah kita sedang berdiri saat ini?
Gegerboyo
Arnhem, The Netherlands
2026