Mural on the plywood of the Liyangan stage
The Liyangan Site is an ancient civilization site located on the slopes of Mount Sindoro in Central Java. It is considered one of the most significant archaeological discoveries in Indonesia, as it reveals a remarkably complete record of ancient Javanese life—from residential areas, ritual spaces, and agricultural systems to the social and economic activities of its people. Findings at the site include wooden and bamboo house structures, Hindu-influenced worship buildings, ancient irrigation and farming systems, pottery, household utensils, agricultural tools, charcoal remains, and traces of trade activity. Collectively, these discoveries illustrate how ancient Javanese society cultivated a close relationship between spiritual life, the natural environment, and everyday existence.
The Liyangan Site gained broader public attention around 2008, when sand miners uncovered stone structures and ancient objects buried beneath volcanic material. The site is believed to have been buried by a major eruption of Mount Sindoro in the past. Ironically, the volcanic deposits helped preserve much of the site’s structures and artifacts. Based on archaeological studies, Liyangan is estimated to date from the 8th to 10th centuries CE, contemporaneous with the Ancient Mataram Kingdom. The existence of Liyangan reflects how communities of that era lived in close connection with mountainous landscapes. Within Javanese-Hindu cosmology, mountains were regarded as sacred realms—the dwelling place of the gods and the center of cosmic balance.
Gegerboyo’s mural emerged from direct encounters with the Liyangan Site, observations of excavation findings, and interactions with communities surrounding the area. These experiences are translated into a visual reflection on ancient knowledge and its relevance to contemporary life. Through this work, Gegerboyo questions the extent to which modern human civilization has truly progressed in comparison to societies of the past: have we genuinely become better, or have we drifted further away from the balance once maintained by earlier civilizations?
The mural functions as a visual extension of fragments of knowledge inherited through the artifacts of the Liyangan Site—an attempt to reread the past as a mirror for understanding the present.
***
Mural di atas tripleks untuk backdrop panggung pertunjukan
Situs Liyangan merupakan situs peradaban kuno yang berada di lereng Gunung Sindoro, Jawa Tengah. Situs ini dianggap sebagai salah satu penemuan arkeologi penting di Indonesia karena memperlihatkan jejak kehidupan masyarakat Jawa Kuno secara cukup lengkap, mulai dari area permukiman, ruang pemujaan, sistem pertanian, hingga aktivitas ekonomi dan sosial masyarakatnya. Berbagai temuan di situs ini meliputi struktur rumah berbahan kayu dan bambu, bangunan pemujaan bercorak Hindu, saluran air dan sistem pertanian kuno, gerabah, alat rumah tangga, alat pertanian, hingga sisa arang dan jejak perdagangan. Keseluruhan temuan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana masyarakat Jawa Kuno membangun hubungan yang erat antara kehidupan spiritual, lingkungan alam, dan aktivitas keseharian.
Situs Liyangan mulai dikenal luas sekitar tahun 2008 ketika para penambang pasir menemukan struktur batu dan benda-benda kuno yang terkubur material vulkanik. Kawasan ini diduga tertimbun akibat letusan besar Gunung Sindoro pada masa lampau. Material vulkanik tersebut justru membantu mengawetkan sebagian besar struktur dan artefak yang ada di dalamnya. Berdasarkan berbagai penelitian arkeologis, situs ini diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-10 Masehi, sezaman dengan periode Kerajaan Mataram Kuno. Keberadaan Liyangan memperlihatkan bagaimana masyarakat masa itu hidup sangat dekat dengan alam pegunungan. Dalam kosmologi Jawa-Hindu, kawasan gunung dipandang sebagai ruang sakral, tempat bersemayamnya para dewa sekaligus pusat keseimbangan alam.
Mural Gegerboyo lahir dari pengalaman langsung mengunjungi Situs Liyangan, mengamati temuan-temuan hasil ekskavasi, serta berinteraksi dengan masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Pengalaman itu kemudian diterjemahkan menjadi refleksi visual mengenai pengetahuan masa lampau dan hubungannya dengan kehidupan modern saat ini. Melalui karya ini, Gegerboyo mempertanyakan sejauh mana kehidupan manusia modern berkembang dibandingkan masyarakat masa lalu: apakah benar menjadi lebih baik, atau justru semakin jauh dari keseimbangan yang dahulu dimiliki.
Mural ini menjadi perpanjangan visual dari serpihan informasi yang diwariskan leluhur melalui artefak-artefak di Situs Liyangan—sebuah upaya membaca kembali masa lalu sebagai cermin untuk memahami kehidupan hari ini.
Gegerboyo
Temanggung
2022