Mural on the wall

 

Following Indonesia’s independence in 1945, the newly formed nation did not yet possess an official state emblem. In the late 1940s, the government initiated a national competition to design one. The artist and statesman Sultan Hamid II ultimately created the emblem, drawing inspiration from the figure of Garuda in Hindu-Javanese mythology—a symbolic entity long embedded within temple reliefs, ancient manuscripts, and the visual culture of kingdoms throughout the Nusantara archipelago. On February 11, 1950, the design was publicly introduced and later officially adopted as the national emblem of Indonesia.

 

Pancasila functions not only as a state emblem, but also as the philosophical foundation of the Indonesian nation. The Garuda was chosen as a symbol of strength, courage, wisdom, and unity. Held within its claws is a ribbon bearing the national motto Bhinneka Tunggal Ika, derived from the Kakawin Sutasoma written by Mpu Tantular during the Majapahit era. The phrase is commonly translated as “Unity in Diversity,” expressing the ideal of national unity amid Indonesia’s vast ethnic, cultural, linguistic, and religious plurality.

 

Through this mural, Gegerboyo revisits the history and symbolism of Pancasila through a more critical lens. The work questions how the idea of national unity was constructed upon layers of cultural identities that had previously existed within the kingdoms and communities of the archipelago. Beneath the rhetoric of unity emerges a broader inquiry into the position of local identities within the framework of the modern nation-state: is diversity genuinely sustained as a shared strength, or gradually homogenized into a singular national identity?

 

The mural becomes a reflection on history, power, cultural identity, and the relationship between the state and its people. “Bhinneka Tunggal Ika” is reconsidered not merely as a national slogan, but as an open space for dialogue regarding how diversity is understood, negotiated, and practiced within Indonesia’s contemporary sociopolitical landscape.

 

***

 

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, negara belum memiliki lambang resmi. Pada akhir 1940-an, pemerintah mengadakan sayembara untuk merancang lambang negara Indonesia. Tokoh yang kemudian merancang lambang tersebut adalah Sultan Hamid II. Desain yang dibuatnya terinspirasi dari figur burung Garuda dalam mitologi Hindu-Jawa, sosok yang sejak lama hadir dalam relief, naskah kuno, dan simbol kerajaan-kerajaan di Nusantara. Pada 11 Februari 1950, rancangan tersebut diperkenalkan kepada publik dan kemudian disahkan sebagai lambang resmi negara Indonesia.

 

Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai lambang negara, tetapi juga merepresentasikan dasar filosofis bangsa Indonesia. Figur Garuda dipilih karena dianggap melambangkan kekuatan, keberanian, kebijaksanaan, dan semangat persatuan. Pada pita yang dicengkeram Garuda tertulis semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada masa Majapahit. Kalimat tersebut secara umum dimaknai sebagai: “Berbeda-beda tetapi tetap satu,” sebuah gagasan mengenai persatuan di tengah keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama di Indonesia.

 

Melalui mural ini, Gegerboyo mencoba melihat kembali sejarah dan makna Pancasila melalui sudut pandang yang lebih kritis. Karya ini mempertanyakan bagaimana gagasan tentang persatuan nasional dibangun di atas keberagaman identitas budaya yang sebelumnya hidup dalam kerajaan-kerajaan dan komunitas-komunitas di Nusantara. Di balik semangat persatuan tersebut, muncul pertanyaan mengenai posisi identitas lokal dalam konstruksi negara modern: apakah keberagaman benar-benar dirawat sebagai kekuatan bersama, atau justru perlahan diseragamkan dalam satu identitas nasional.

 

Mural ini adalah refleksi atas sejarah, kekuasaan, identitas budaya dan hubungan antara negara. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika dibaca kembali bukan hanya sebagai slogan nasional, tetapi juga sebagai ruang dialog mengenai keberagaman yang dipahami dan dijalankan dalam kehidupan sosial-politik Indonesia hari ini.

 

Gegerboyo

Yogyakarta

2017