Mural on wall

 

In the Indonesian language, sajen refers to an offering. Within Javanese tradition, sajen functions as a form of respect intended to maintain balance, courtesy, and harmonious relationships between humans and other entities—both visible and invisible—including nature, ancestors, guardian spirits (danyang), supernatural beings, and dhemit. The practice forms part of a spiritual and cultural system that has been passed down through generations within Javanese society.

 

These offerings are composed of symbolic foods and everyday objects such as rice, urap, porridge, traditional market snacks, bananas, chicken, fish, eggs, flowers, and coffee. Each element carries symbolic meanings associated with protection, balance, social harmony, gratitude, and reverence toward life.

 

Over time, the ritual of sajen has often been associated with mysticism or the supernatural, and is therefore sometimes perceived as being in conflict with certain religious values. However, upon closer examination, the symbolic elements within sajen do not represent violence, destruction, or harm enacted in the name of belief. Rather, they embody values of love, respect, togetherness, and an aspiration toward harmonious relationships between humanity, nature, and the cosmos.

 

Through this mural, Gegerboyo reconsiders the tradition of sajen as a form of cultural knowledge containing philosophical and social values, while simultaneously opening new possibilities for understanding how contemporary society negotiates spirituality and local tradition.

 

***

Mural di tembok

 

Dalam bahasa Indonesia, sajen berarti persembahan. Di dalam tradisi Jawa, sajen merupakan bentuk penghormatan untuk menjaga keseimbangan, sopan santun, dan hubungan harmonis antara manusia dengan entitas lain, baik yang terlihat maupun tak terlihat; seperti alam, leluhur, danyang, mahluk halus, maupun dhemit. Tradisi ini menjadi bagian dari praktik spiritual dan kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Jawa.

 

Persembahan tersebut diwujudkan melalui berbagai simbol makanan dan benda keseharian, seperti beras, urap, bubur, jajanan pasar, pisang, ayam, ikan, telur, bunga, hingga kopi. Setiap unsur memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan harapan akan keselamatan, keseimbangan hidup, kerukunan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap kehidupan.

 

Dalam perkembangannya, ritual sajen sering kali dikaitkan dengan praktik mistik atau hal-hal gaib, sehingga tidak jarang dipandang bertentangan dengan nilai-nilai agama tertentu. Namun apabila ditelusuri lebih jauh, simbol-simbol yang terdapat dalam sajen justru tidak merepresentasikan kekerasan, penghancuran, maupun ajakan untuk merugikan pihak lain atas nama kepercayaan. Sebaliknya, unsur-unsur tersebut lebih banyak merefleksikan nilai cinta, penghormatan, kebersamaan, serta cita-cita luhur tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan semesta.

 

Gegerboyo mencoba melihat kembali tradisi sajen sebagai bagian dari pengetahuan budaya yang menyimpan nilai-nilai filosofis dan sosial, sekaligus membuka ruang pembacaan baru terhadap bagaimana masyarakat modern memahami spiritualitas dan tradisi lokal.

 

Gegerboyo

Yogyakarta

2017